PSPK – 10 April 2026 | Indonesia tengah berupaya mempercepat pemerataan akses internet hingga ke pelosok negeri, namun ambisi tersebut kini terhambat oleh lonjakan harga bahan baku fiber optik. Kenaikan ini menimbulkan tekanan signifikan pada pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional.
Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) melalui ketua umumnya, Jerry Siregar, menjelaskan bahwa industri menghadapi “perfect storm”. Di satu sisi, ketergantungan besar pada pemasok luar, terutama dari China, dan di sisi lain, ketegangan geopolitik global yang mengganggu stabilitas harga serta ketersediaan material esensial.
Data APJATEL menunjukkan bahwa sekitar 90% bahan baku fiber optik yang dipakai di Indonesia masih diimpor. Tingginya persentase impor ini dianggap sebagai alarm bagi kedaulatan digital nasional karena setiap gejolak di negara pemasok dapat menular secara sistemik ke proyek infrastruktur dalam negeri.
Komponen inti seperti corning—bahan utama kabel fiber optik—menjadi semakin langka dan mahal akibat tingginya permintaan global, tidak hanya untuk jaringan internet tetapi juga untuk industri alutsista. Selain itu, harga bahan pelindung kabel High-Density Polyethylene (HDPE) juga naik antara 15% hingga 17%.
Berikut adalah rangkuman kenaikan harga material utama:
| Material | Kenaikan Harga |
|---|---|
| Corning (inti kabel) | ~20% (perkiraan) |
| HDPE (pelindung kabel) | 15% – 17% |
Saat ini total panjang jaringan fiber optik di Indonesia mencapai sekitar 1 juta kilometer, namun cakupan layanan baru hanya menyentuh 30% dari 514 kabupaten/kota yang ada. Target pembangunan yang sebelumnya diproyeksikan 50 kilometer per tahun kini terpaksa dipangkas menjadi sekitar 10 kilometer per tahun karena biaya material yang melonjak.
Untuk mengatasi tekanan ini, APJATEL mengimbau pemerintah memberikan insentif yang dapat meredam beban modal (CapEx) operator, serta melonggarkan regulasi yang mempercepat proses penggelaran kabel di daerah terpencil. Dukungan kebijakan yang berkelanjutan diharapkan dapat menjaga agar target konektivitas nasional tetap tercapai meski berada di tengah tekanan ekonomi global.












