PSPK – 05 April 2026 | Warga di beberapa wilayah Jawa Barat, Banten, hingga Lampung pada Sabtu 4 April 2026 malam melaporkan melihat cahaya terang yang meluncur cepat di atas kepala mereka. Objek tersebut tampak sangat bersinar, bergerak perlahan, dan menghasilkan suara dentuman keras sebelum menghilang.
Awalnya banyak spekulasi di media sosial; sebagian mengira itu meteor, sementara yang lain mengaitkannya dengan rudal balistik. Beberapa warga bahkan merekam momen tersebut dengan ponsel mereka dan membagikannya secara luas.
Institut Teknologi Sumatera (ITERA) kemudian memberikan penjelasan resmi. Tim Sains Atmosfer dan Keplanetan serta Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL) mengidentifikasi benda itu sebagai sampah antariksa, tepatnya sisa roket China tipe CZ‑3B R/B (rocket body). Menurut analisis mereka, fenomena tersebut terjadi karena proses re‑entry, di mana bagian roket yang kembali ke atmosfer terbakar akibat gesekan tinggi, menghasilkan cahaya oranye‑merah serta suara ledakan.
Karakteristik visual yang terekam—pergerakan relatif lambat, tampilan terfragmentasi, dan kilatan api panjang—menunjukkan bahwa objek tersebut bukan meteor alami melainkan buatan manusia yang mengalami pembakaran saat masuk kembali ke atmosfer.
Berbagai saksi di Lampung melaporkan dampak suara yang sangat jelas. Salah satu saksi, Setiawan (35) dari Desa Negeri Tua, Lampung Timur, menceritakan: “Awalnya kaget karena ada suara dentuman. Setelah saya keluar rumah, saya makin kaget melihat ada benda langit itu. Kami sempat takut itu rudal salah sasaran.”
Fenomena serupa memang dapat terjadi secara alami, namun munculnya secara tiba‑tiba tanpa peringatan sebelumnya memicu kepanikan dan perbincangan hangat di jejaring sosial.
Berikut rangkuman temuan ITERA:
- Objek merupakan sisa roket China CZ‑3B R/B.
- Terjadi proses re‑entry di atmosfer Bumi.
- Cahaya oranye‑merah dan suara dentuman diakibatkan oleh gesekan tinggi dan pembakaran material roket.
- Kecepatan dan gerakan relatif lambat menandakan bukan meteor.
Pihak berwenang masih memantau wilayah terkait untuk memastikan tidak ada bahaya lanjutan, sementara masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti informasi resmi.












