PSPK – 02 April 2026 | Jakarta – Ericsson menegaskan bahwa integrasi kecerdasan buatan (AI) ke dalam jaringan seluler kini menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan keandalan infrastruktur digital nasional.
Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia, menjelaskan konsep "AI for Network" sebagai pemanfaatan AI untuk mengoptimalkan operasi internal jaringan. Salah satu inovasi utama adalah kemampuan sistem melakukan pemeliharaan prediktif, di mana AI menganalisis gejala teknis pada perangkat radio dan memperkirakan kemungkinan kegagalan dalam satu hingga dua minggu ke depan.
Dengan prediksi tersebut, operator dapat mengganti perangkat secara proaktif sebelum kerusakan total terjadi, sehingga mengurangi downtime dan gangguan sinyal yang merugikan pelanggan.
Manfaat lain meliputi penghematan biaya operasional karena proses perawatan menjadi lebih terukur, serta optimasi perangkat lunak dan manajemen operasional secara keseluruhan.
Selain mengoptimalkan jaringan dari dalam, tantangan berikutnya adalah membangun "Network for AI". Aplikasi AI multimodal—yang menggabungkan teks, gambar, video, dan suara—menuntut jaringan dengan latensi rendah, kecepatan tinggi, dan kemampuan uplink yang kuat. Data Consumer Lab memperkirakan sekitar 46% pengguna di Indonesia akan mengakses aplikasi AI saat berada di luar rumah, seperti saat bepergian atau berada di tempat umum, pada tahun 2030.
Untuk memenuhi kebutuhan ini, operator harus memastikan performa jaringan yang konsisten di seluruh wilayah, bukan hanya di kawasan perkantoran atau pemukiman.
- Redefinisi jaringan untuk mendukung beban kerja AI
- Penyediaan latensi rendah dan kecepatan tinggi secara merata
- Penguatan infrastruktur 5G untuk mengimbangi negara tetangga
Tren global menunjukkan pergeseran peran perusahaan telekomunikasi dari sekadar penyedia konektivitas menjadi perusahaan teknologi atau bahkan perusahaan AI. Namun, Ronni mengingatkan bahwa status “AI Company” tidak akan berarti tanpa tulang punggung konektivitas yang kuat.
Indonesia memiliki ambisi menjadi pusat AI di Asia Tenggara, namun pencapaian tersebut akan terhambat jika infrastruktur 5G masih tertinggal dibandingkan Malaysia atau Vietnam. “AI memang menjadi tren yang luar biasa, namun konektivitas tetaplah tulang punggungnya,” tegas Ronni.












