PSPK – 22 Maret 2026 | Jakarta – Film animasi Pelangi di Mars resmi diputar di bioskop Indonesia sejak 18 Maret 2026, bersamaan dengan perayaan Lebaran. Namun, alih-alih mendapatkan sambutan hangat, film ini segera menjadi sorotan kritis publik, terutama mengenai dugaan penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang berlebihan dan kelemahan alur cerita.
Beragam penonton menilai film tersebut terlalu mengandalkan teknologi, sementara narasinya dianggap belum matang. Kritik ini memancing respons langsung dari sutradara Upie Guava.
Menanggapi tudingan AI, Upie menegaskan bahwa film tidak dapat sepenuhnya dibuat oleh mesin. Ia menulis di akun Instagram pribadinya bahwa film selalu berakar pada rasa manusia, emosi, empati, dan pengalaman hidup yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Menurutnya, AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti kreativitas.
Dalam proses produksi, Pelangi di Mars merupakan proyek ambisius yang dimulai pada tahun 2020 dan melibatkan ratusan kreator Indonesia. Film ini memadukan teknologi XR (extended reality), motion capture, Unreal Engine, serta pendekatan hybrid antara live‑action dan animasi.
Kritik terhadap cerita juga muncul. Upie menanggapinya dengan menyatakan bahwa perbedaan pandangan adalah wajar dan dapat memperkaya diskusi industri film. Ia menambahkan bahwa setiap masukan dihargai, namun sebuah karya tidak dapat dinilai hanya dari satu sudut pandang.
Film ini mengusung genre fiksi ilmiah keluarga, mengisahkan petualangan seorang anak bernama Pelangi di planet Mars dengan tema hubungan keluarga, persahabatan, dan imajinasi masa depan.
Kontroversi seputar Pelangi di Mars menggarisbawahi perdebatan penting antara teknologi modern dan sentuhan manusia dalam sinema. Meskipun film belum dianggap sempurna, ia berhasil memicu diskusi besar tentang masa depan industri film nasional.












