PSPK – 27 Maret 2026 | Orangutan sumatera bernama “Pesek” melahirkan anak ketujuh pada Selasa, 24 Maret 2026, di kawasan hutan tropis Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) bagian Bukit Lawang. Kelahiran ini diumumkan oleh Palber Turnip, pejabat Balai Besar TNGL, yang memastikan induk dan bayi berada dalam kondisi sehat.
Pesek telah menjalani proses rehabilitasi sejak tahun 1993 setelah diserahkan oleh warga dari Binjai. Kini berusia sekitar 38 tahun, ia berhasil menjadi orangutan liar yang mandiri dan telah melahirkan tujuh anak, yakni April, Hirim (yang meninggal muda), Alam, Wati, Valentino, Pandemik, dan bayi terbaru yang masih belum diberi nama serta jenis kelaminnya belum diketahui.
Setiap kelahiran di alam liar menjadi indikator penting bagi keberlangsungan spesies. Menurut Palber, “setiap kelahiran adalah harapan, setiap kematian adalah luka yang tak pernah benar-benar sembuh.” Kualitas habitat di Leuser masih memungkinkan reproduksi, namun tekanan terhadap hutan terus meningkat.
Ancaman utama yang dihadapi TNGL meliputi perambahan hutan, pembukaan lahan untuk pertanian atau perkebunan, serta meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar. Kondisi ini mengancam tidak hanya orangutan sumatera, tetapi juga spesies kunci lainnya yang bergantung pada ekosistem hutan hujan.
Keberhasilan reproduksi Pesek menunjukkan daya tahan alam, namun kelangsungan hidup spesies ini tetap bergantung pada keputusan manusia dalam melindungi atau merusak habitat. Upaya konservasi yang melibatkan rehabilitasi, pengawasan kawasan, dan edukasi masyarakat menjadi kunci untuk memastikan hutan Leuser tetap menjadi rumah bagi orangutan dan keanekaragaman hayati lainnya.
- April
- Hirim (mati muda)
- Alam
- Wati
- Valentino
- Pandemik
- Anak terbaru (nama belum ditentukan)










