PSPK – 28 Maret 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali memantau ancaman cuaca ekstrem yang mengintai wilayah perairan dan daratan Nusantara. Fenomena terbaru yang menjadi sorotan adalah Siklon Tropis Narelle, yang terbentuk dari bibit siklon tropis 96P.
Mengenal Siklon Tropis Narelle
Siklon Tropis Narelle muncul pertama kali pada pertengahan Maret 2026 setelah terdeteksi oleh pusat peringatan dini. Pada 17 Maret 2026, sistem ini mencapai intensitas puncak pertama dan diklasifikasikan sebagai siklon tropis yang sangat kuat. Menurut data Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, Narelle masuk dalam kategori 4, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 95 knot (sekitar 175 km/jam) dan tekanan pusat 946 hPa, menandakan potensi destruktif yang tinggi.
Jalur Pergerakan dan Intensitas Badai
Pada saat ini, pusat Narelle berada di Samudra Hindia, di sebelah selatan wilayah perairan Nusa Tenggara Barat dan Bali, dengan jarak antara 1.290 hingga 1.910 kilometer dari Kota Denpasar. Badai bergerak ke arah selatan‑barat daya dengan kecepatan sekitar 10‑11 knot (19‑21 km/jam). Karena lintasannya menjauhi daratan Indonesia dan keluar dari Area of Monitoring (AoM) TCWC Jakarta, intensitas diperkirakan menurun menjadi kategori 3 dengan kecepatan sekitar 70 knot (130 km/jam). Sebelum melemah, Narelle telah menyebabkan hujan lebat dan banjir di beberapa wilayah Australia seperti Queensland, Northern Territory, dan Australia Barat.
Dampak Tidak Langsung di Indonesia
- Hujan intensitas sedang hingga lebat: Tarikan massa udara menuju pusat badai menimbulkan pembentukan awan tebal di Pulau Jawa. Seluruh provinsi di Jawa—Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur—diperkirakan akan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
- Peningkatan tinggi gelombang laut: Angin kencang yang menyertai Narelle mengaduk perairan di pesisir selatan. Gelombang laut berukuran 1,25 hingga 2,5 meter dapat melanda Samudra Hindia di wilayah barat Lampung, selatan Banten, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Daerah selatan Jawa Tengah juga perlu waspada terhadap gelombang yang lebih tinggi.
Meskipun lintasan utama Narelle tidak langsung menghantam Indonesia, skala dan radius putaran angin yang luas tetap menimbulkan ancaman bagi wilayah pesisir, pelayaran, dan penduduk di sepanjang Pulau Jawa. Masyarakat disarankan untuk terus memantau pembaruan cuaca, menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi genangan, banjir, serta bahaya gelombang tinggi hingga badai benar‑benar mereda atau menjauh dari wilayah regional Indonesia.










