PSPK – 21 Maret 2026 | Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menegaskan bahwa Piala Dunia 2026 akan tetap berlangsung sesuai rencana meskipun berada di tengah gejolak geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, dan Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Presiden FIFA Gianni Infantino dalam pertemuan Dewan FIFA yang diadakan secara daring dari Zurich pada 19 Maret 2026.
Infantino menekankan bahwa sepak bola memiliki kekuatan untuk menyatukan bangsa‑bangsa, dan menolak untuk menjadikan turnamen sebagai arena penyelesaian konflik politik. “FIFA tidak dapat menyelesaikan konflik geopolitik, tetapi kami berkomitmen menggunakan sepak bola sebagai jembatan perdamaian,” ujarnya dalam rilis resmi.
Ketegangan dengan Iran
Situasi menjadi tegang setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada awal Maret 2026, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran kemudian meminta FIFA memindahkan tiga laga fase grupnya dari wilayah Amerika Serikat ke Meksiko, mengingat keamanan pemain dan suporter.
FIFA menolak permintaan tersebut, menyatakan bahwa jadwal turnamen telah disusun dengan cermat melibatkan 48 tim yang telah dikonfirmasi. “Kami berharap semua tim dapat berkompetisi dengan adil dan rasa hormat, tanpa perubahan mendadak pada jadwal,” kata Infantino.
Meski demikian, Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) tetap bertekad untuk berpartisipasi. Presiden FFIRI, Mehdi Taj, mengumumkan bahwa timnas Iran akan menjalani pemusatan latihan di Antalya, Turki, serta menjadwalkan dua laga uji coba melawan Nigeria (27 Maret) dan Kosta Rika (31 Maret). “Kami akan memboikot Amerika Serikat, namun tidak memboikot Piala Dunia,” tegas Taj.
Rusia dan Sanksi Internasional
Di sisi lain, Rusia masih berada di bawah sanksi internasional akibat invasi ke Ukraina pada 2022. Meskipun FIFA sebelumnya menolak melarang timnas Rusia berpartisipasi, tekanan internasional menuntut tindakan tegas. Hingga kini, FIFA belum mengeluarkan sanksi khusus terhadap Rusia dalam konteks Piala Dunia 2026, menimbulkan kritik dari sejumlah negara anggota.
Para pengamat menilai kebijakan FIFA yang tampak selektif antara Iran dan Rusia dapat memengaruhi kredibilitas turnamen. Namun, Infantino menegaskan bahwa keputusan diambil berdasarkan pertimbangan logistik dan keselamatan, bukan pertimbangan politik.
Persiapan Tuan Rumah
Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tetap melanjutkan persiapan infrastruktur, termasuk stadion baru di Los Angeles, Seattle, dan Guadalajara. Pemerintah Meksiko, dipimpin oleh Presiden Claudia Sheinbaum, memastikan keamanan bagi suporter selama fase grup, terutama pada pertandingan yang melibatkan timnas Iran.
Berikut jadwal singkat fase grup Iran pada Piala Dunia 2026:
| Tanggal | Lawannya | Lokasi |
|---|---|---|
| 12 Juni 2026 | Selandia Baru | Los Angeles, AS |
| 16 Juni 2026 | Belgia | Los Angeles, AS |
| 20 Juni 2026 | Mesir | Seattle, AS |
Dengan jadwal tersebut, Iran masih harus menyiapkan strategi melawan tiga tim kuat, sambil mengelola tekanan politik di luar lapangan.
Reaksi Publik dan Media
Berbagai media internasional menyoroti sikap FIFA yang tampak pasif. Di Indonesia, portal berita IDN Times menyoroti bahwa FIFA “gak kasih ruang ke Iran” namun tetap melanjutkan turnamen. Sementara itu, Bola.com menekankan pentingnya fair play dan menolak campur tangan politik dalam olahraga.
Penggemar sepak bola di seluruh dunia menunggu bagaimana dinamika ini akan memengaruhi atmosfer Piala Dunia 2026. Apakah isu geopolitik akan mengurangi semangat kompetisi, atau justru memicu solidaritas lintas negara?
Secara keseluruhan, FIFA bertekad menjaga kelangsungan turnamen paling bergengsi di dunia, meski berada di tengah ketegangan internasional yang belum berakhir. Keputusan ini menegaskan bahwa sepak bola tetap menjadi panggung utama bagi persaingan sportivitas, terlepas dari tekanan politik yang menggelayuti panggung global.












