PSPK – 28 Maret 2026 | BMKG memperkirakan musim kemarau tahun 2026 akan mulai pada bulan April, dengan penyebaran bertahap ke seluruh wilayah Indonesia.
Dalam konferensi pers terbaru, Kepala BMKG Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa sekitar 114 zona iklim, atau 16,3 % dari total 699 zona, akan memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah yang pertama merasakan perubahan ini diprediksi berada di bagian timur Indonesia, khususnya Nusa Tenggara, sebelum bergerak ke tengah dan barat.
Data analisis menunjukkan bahwa musim kemarau 2026 akan datang lebih cepat dibandingkan tahun‑tahun sebelumnya. Sebanyak 325 zona (45,6 %) diperkirakan mengalami musim kemarau lebih awal, sementara 173 zona (23,7 %) akan mengikuti pola normal.
Berikut rincian zona yang diprediksi masuk musim kemarau per bulan:
| Bulan | Jumlah Zona | Persentase | Wilayah Utama |
|---|---|---|---|
| April 2026 | 144 | 16,3 % | Pesisir utara Jawa Barat, Jawa Barat barat, sebagian besar Jawa Tengah‑Jawa Timur, sebagian kecil Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan |
| Mei 2026 | 184 | 26,3 % | Sebagian Sumatera, Jawa barat, sebagian kecil Jawa Tengah‑Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan selatan, sebagian kecil Sulawesi, Maluku, Papua |
| Juni 2026 | 163 | 23,3 % | Sebagian besar Sumatera, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, sebagian kecil Papua |
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menambahkan bahwa pergantian monsun baratan (Asia) menjadi monsun timuran (Australia) menjadi faktor utama yang memicu peralihan ke musim kemarau.
Dengan pola ini, masyarakat di wilayah timur diharapkan mempersiapkan diri lebih awal untuk menghadapi kondisi kering, sementara daerah tengah dan barat dapat menyesuaikan diri secara bertahap mulai bulan Mei hingga Juni.
Pengamatan ini penting untuk sektor pertanian, persediaan air, dan mitigasi kebakaran hutan. Pemerintah dan instansi terkait disarankan memperkuat sistem peringatan dini serta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air menjelang puncak musim kemarau.










