PSPK – 31 Maret 2026 | Jakarta, 31 Maret 2026 – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengukuhkan lima profesor riset baru dalam sidang terbuka yang diselenggarakan di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie. Setiap profesor memaparkan hasil riset unggulan yang diarahkan pada solusi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Daftar Profesor Riset Baru
- Mu’man Nuryana – Perencanaan dan Kebijakan Sosial
- Robet Asnawi – Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan
- Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho – Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Geoinformatika
- Taslim Arifin – Daya Dukung Ekologi Pesisir
- Aprijanto – Teknologi Adaptif Kawasan Pesisir dan Pelabuhan
Mu’man Nuryana: Model Orkestrasi Ekosistem
Mu’man Nuryana, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, menekankan pentingnya transformasi tata kelola kesejahteraan sosial melalui kolaborasi antara komunitas dan negara. Ia memperkenalkan Model Orkestrasi Ekosistem, sebuah kerangka yang menggabungkan aktor, pengetahuan, dan proses pembelajaran kebijakan secara inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Model ini menempatkan komunitas sebagai produsen kesejahteraan, sementara pemerintah berperan sebagai fasilitator yang mengatasi fragmentasi kebijakan dan layanan.
Robet Asnawi: Inovasi Pertanian Berbasis Ekonomi Sirkular
Robet Asnawi mengusulkan sistem tanam double row pada ubi kayu yang dapat meningkatkan produktivitas lebih dari 100 persen. Pemanfaatan biomassa pada skala petani menambah produktivitas sebesar 17,26 persen serta meningkatkan pendapatan petani hingga 48,43 persen. Ia menekankan pentingnya penetapan harga dasar ubi kayu yang transparan dan penguatan kemitraan antara petani dan industri untuk menjaga kelangsungan rantai pasok.
Taslim Arifin: Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE)
Di sektor pesisir, Taslim Arifin memperkenalkan Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE) sebagai alat ukur kapasitas ekosistem dalam mendukung aktivitas manusia tanpa mengorbankan fungsi ekologis. Ia mencatat nilai ekonomi terumbu karang mencapai sekitar USD 3,1 miliar per tahun dari pariwisata, USD 2,9 miliar dari perikanan, dan USD 639 juta untuk perlindungan pantai. IDDE diharapkan dapat menurunkan laju degradasi dan memperkuat dasar ilmiah bagi pengelolaan ruang laut.
Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho: Pengelolaan DAS Partisipatif
Hunggul Yudono memaparkan model pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) mikro partisipatif yang mengintegrasikan teknik konservasi tanah dan air berbasis lokal. Ia memperkenalkan serangkaian instrumen monitoring seperti ATHUS, ModATHUS, WaterQ, dan SI PUBER yang mendukung perencanaan berbasis data, sistem peringatan dini bencana, serta kebijakan pengelolaan DAS yang adaptif dan inklusif.
Aprijanto: Teknologi Adaptif untuk Pesisir dan Pelabuhan
Aprijanto menyoroti tantangan perubahan iklim, kenaikan muka laut, dan penurunan tanah pada kawasan pesisir dan pelabuhan. Ia mengembangkan teknologi adaptif berbasis hidrodinamika yang mencakup pemodelan arus, gelombang, banjir rob, serta sedimentasi. Integrasi kecerdasan buatan dan data spasial mendukung sistem peringatan dini serta konsep Smart dan Green Port. Pendekatan Technology Readiness Level (TRL), Socio‑Technical System (STS), dan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) menjadi jembatan antara riset dan implementasi kebijakan.
Sidang terbuka ini menegaskan peran strategis BRIN dalam menghasilkan riset yang tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi praktis bagi tantangan nasional, mulai dari kesejahteraan sosial, ketahanan pangan, hingga pengelolaan sumber daya alam dan pesisir.












