PSPK – 27 Maret 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa musim kemarau tahun 2026 akan tiba lebih awal dibandingkan pola rata‑rata historis. Transisi dari musim hujan ke musim kemarau diprediksi mulai menyebar di berbagai wilayah antara bulan April hingga Juni 2026.
Awal Musim Kemarau: April – Juni 2026
Proses awal diperkirakan dimulai di Nusa Tenggara, kemudian bergerak ke wilayah lain secara bertahap.
- April 2026: sekitar 16,3 % wilayah (114 ZOM) memasuki musim kemarau, meliputi pesisir utara Jawa Barat, sebagian Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
- Mei 2026: cakupan meningkat menjadi 26,3 % (184 ZOM), mencakup Aceh Utara, Lampung, sebagian besar Jawa, hingga Papua bagian timur.
- Juni 2026: sekitar 23,3 % wilayah (163 ZOM) seperti Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, dan sebagian besar Kalimantan masuk ke fase kering.
Puncak Musim Kemarau: Agustus 2026
- 61,4 % wilayah (429 ZOM) mengalami puncak kemarau pada Agustus.
- Wilayah utama meliputi Sumatra tengah‑selatan, Jawa tengah‑timur, Bali, NTB, serta sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi.
- Beberapa daerah mengalami puncak lebih awal (Juli, 12,6 %) atau lebih lambat (September, 14,3 %).
Kondisi Umum Musim Kemarau 2026
Secara keseluruhan, musim kemarau 2026 diproyeksikan:
- Muncul lebih awal pada 46,5 % wilayah dibandingkan rata‑rata 1991‑2020.
- Durasinya lebih panjang pada 57,2 % wilayah.
- Intensitas hujan berada di bawah normal atau lebih kering pada 64,5 % wilayah.
Pergeseran ini meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, dan kebakaran lahan. BMKG mengimbau masyarakat, petani, dan pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan, mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, serta menyiapkan langkah mitigasi bencana.










