PSPK – 23 Maret 2026 | Fenomena pinjaman online (pinjol) yang meluas di Indonesia tak lagi menjadi sekadar tren keuangan, melainkan berpotensi menjerumuskan penggunanya ke dalam lingkaran kecanduan yang sulit diputus. Menurut para psikolog, perilaku kecanduan pinjol memiliki kemiripan dengan ciri‑ciri orang yang dibesarkan secara terlalu dimanja. Kedua pola ini sama-sama ditandai dengan ketergantungan pada validasi eksternal, kesulitan mengendalikan emosi, dan rendahnya toleransi terhadap rasa tidak nyaman.
Ciri‑ciri orang yang kecanduan pinjaman online
- Sering memeriksa saldo dan notifikasi aplikasi pinjol, bahkan ketika tidak ada keperluan mendesak.
- Menggunakan pinjaman untuk kebutuhan tidak produktif seperti belanja impulsif, hiburan, atau bahkan untuk menutupi hutang sebelumnya.
- Merasa cemas atau gelisah bila tidak dapat mengakses aplikasi pinjol atau ketika batas kredit mendekati habis.
- Mengabaikan tanggung jawab pekerjaan, keluarga, atau studi karena waktu yang dihabiskan untuk mengajukan atau mengelola pinjaman.
- Mencoba menutupi penggunaan pinjaman dengan berbohong kepada orang terdekat.
- Menunjukkan perilaku menghindar ketika dibicarakan soal keuangan, sering mengalihkan pembicaraan.
- Kesulitan mengatur anggaran pribadi; pendapatan dan pengeluaran tidak pernah seimbang.
- Sering mengalami stres, insomnia, atau gejala fisik lain akibat tekanan finansial yang terus‑menerus.
- Ketergantungan pada persetujuan cepat dari aplikasi sebagai bentuk validasi diri.
- Rasa malu atau rasa bersalah yang tinggi namun tetap kembali ke pola pinjaman.
- Kurangnya rasa percaya diri dalam membuat keputusan keuangan tanpa bantuan aplikasi.
Hubungan psikologis antara pola asuhan dan kecanduan pinjol
Penelitian psikolog dari Thriveworks menunjukkan bahwa anak yang terlalu dimanja sejak kecil cenderung mengembangkan ketidakmampuan mengatasi tantangan secara mandiri. Kebiasaan ini berlanjut hingga dewasa, di mana individu mencari solusi instan untuk mengurangi rasa tidak nyaman—salah satunya lewat pinjaman online yang menawarkan persetujuan cepat tanpa proses panjang.
Beberapa ciri kepribadian anak dimanja, seperti kesulitan mengatur emosi, keinginan terus‑menerus mendapatkan pengakuan, dan rendahnya ambang batas ketidaknyamanan, berpotensi menjadi faktor risiko utama bagi kecanduan pinjol. Ketika seseorang terbiasa mendapat “solusi” otomatis dari orang tua, ia mungkin menganggap aplikasi pinjol sebagai “orang tua digital” yang selalu siap memberikan bantuan finansial tanpa pertanyaan.
Strategi psikologis mengatasi kecanduan pinjaman online
- Self‑Assessment Terstruktur: Buat jurnal harian yang mencatat setiap kali membuka aplikasi pinjol, alasan penggunaan, serta perasaan yang muncul. Kesadaran diri merupakan langkah pertama untuk memutus kebiasaan otomatis.
- Pengembangan Toleransi Ketidaknyamanan: Latih diri melalui teknik eksposur bertahap, misalnya menunda keputusan pembelian selama 24 jam sebelum mengajukan pinjaman. Hal ini membantu menurunkan ambang batas ketidaknyamanan.
- Terapi Kognitif‑Perilaku (CBT): Konsultasi dengan psikolog untuk mengidentifikasi pola pikir distorsif seperti “saya tidak bisa hidup tanpa uang cepat” dan menggantinya dengan pemikiran realistis.
- Penguatan Kemandirian Finansial: Ikuti kursus manajemen keuangan dasar, buat anggaran bulanan, dan alokasikan dana darurat minimal tiga bulan pengeluaran. Rasa aman yang dibangun secara mandiri dapat mengurangi kebutuhan akan bantuan eksternal.
- Restrukturisasi Lingkungan Digital: Hapus aplikasi pinjol dari layar utama, matikan notifikasi, atau bahkan uninstall sementara aplikasi tersebut. Lingkungan yang tidak memicu dapat memperlambat kebiasaan kompulsif.
- Support System: Libatkan keluarga atau teman terdekat dalam proses pemulihan. Dukungan sosial yang positif dapat menggantikan kebutuhan akan validasi eksternal dari aplikasi.
- Mindfulness dan Relaksasi: Praktik meditasi, pernapasan dalam, atau yoga untuk menurunkan tingkat kecemasan yang sering memicu impuls mengajukan pinjaman.
Dengan mengintegrasikan langkah‑langkah tersebut, individu tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pinjaman online, tetapi juga memperbaiki kesehatan mental secara keseluruhan. Kunci utama adalah membangun rasa kontrol internal yang kuat, sehingga keputusan finansial kembali menjadi hasil pertimbangan rasional, bukan respons emosional semata.
Penting untuk diingat bahwa kecanduan pinjol bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan refleksi dari pola psikologis yang terbentuk sejak masa kanak‑kanak. Intervensi yang melibatkan aspek emosional, perilaku, dan lingkungan akan memberikan hasil yang lebih berkelanjutan dibandingkan pendekatan satu dimensi.












