PSPK – 11 Maret 2026 | Jakarta – Insiden kekerasan yang menimpa wasit internasional FIFA, Thoriq Alkatiri, pada laga Malut United melawan PSM Makassar pada Sabtu, 7 Maret 2026, menimbulkan gelombang kecaman luas di kalangan pemain, ofisial, dan media. Kejadian ini terjadi di Stadion Kie Raha, Maluku Utara, tepat setelah peluit akhir pertandingan, ketika seorang oknum suporter Malut United mendekati wasit dan memukulnya secara fisik. Tindakan brutal tersebut tidak hanya melukai martabat wasit, tetapi juga mencoreng citra kompetisi tertinggi Liga Indonesia, Super League.
Detail Insiden
Menurut saksi mata yang berada di tribun, setelah peluit akhir berbunyi, Thoriq Alkatiri melangkah menuju ruang ganti. Pada saat itu, seorang pendukung yang mengenakan kaos berwarna tim Malut United mendekat, mengangkat tangan, dan meninju wajah wasit. Thoriq sempat terjatuh, namun berhasil bangkit dengan bantuan petugas keamanan stadion. Tidak ada laporan resmi tentang cedera serius, namun wasit menyatakan rasa sakit dan kekecewaan mendalam.
Insiden tersebut juga memicu intimidasi terhadap jurnalis yang merekam video kejadian. Seorang ofisial tim Malut United secara paksa memerintahkan wartawan untuk menghapus rekaman, menimbulkan pertanyaan serius tentang kebebasan pers di arena olahraga.
Reaksi Manajemen Malut United
Manajemen Malut United segera mengeluarkan pernyataan resmi pada Senin, 9 Maret 2026, melalui konferensi pers virtual. “Kami menolak keras segala tindakan tercela baik dari suporter maupun ofisial yang melanggar etika olahraga. Video yang beredar akan diserahkan kepada Komite Disiplin PSSI untuk proses selanjutnya,” kata perwakilan manajemen.
Manajemen menegaskan komitmen klub untuk menindak pelaku, sekaligus menegaskan bahwa klub akan memperkuat prosedur keamanan di stadion, termasuk peningkatan pengawasan CCTV dan kerja sama lebih intens dengan aparat kepolisian setempat.
Pernyataan PSSI
Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, juga memberikan komentar resmi melalui pesan suara yang disebarkan pada 9 Maret. “PSSI sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ini bukanlah perilaku yang dapat diterima di level tertinggi Liga Indonesia. Kami menuntut tindakan tegas terhadap semua pihak yang terlibat, baik itu pemukulan terhadap wasit, intimidasi media, maupun tindakan kekerasan lainnya,” ujar Yunus.
Yunus menambahkan bahwa Komite Disiplin PSSI telah menerima laporan lengkap dan akan menindaklanjuti sesuai regulasi yang berlaku. “Kami berharap insiden ini menjadi yang terakhir dan tidak akan terulang lagi di masa depan,” tuturnya.
Langkah Disiplin Selanjutnya
Komite Disiplin PSSI, yang berwenang mengadili pelanggaran disiplin dalam sepakbola Indonesia, akan mengadakan rapat mendesak untuk menentukan sanksi bagi suporter yang terlibat serta pejabat klub yang melakukan intimidasi terhadap wartawan. Berdasarkan Peraturan Disiplin PSSI, pelanggaran seperti ini dapat berujung pada denda berat, larangan masuk stadion, atau bahkan pemecatan kontrak bagi pejabat klub.
- Suporter: Identifikasi melalui rekaman CCTV, denda, dan larangan masuk ke semua kompetisi PSSI selama minimal satu musim.
- Ofisial Klub: Sanksi administratif, termasuk denda dan kemungkinan pemecatan kontrak, tergantung tingkat pelanggaran.
- Klub: Penilaian atas tanggung jawab kolektif, dapat dikenakan poin penalti atau penurunan peringkat liga.
Selain itu, PSSI berjanji akan meningkatkan pelatihan keamanan stadion dan menegakkan regulasi anti‑kekerasan secara lebih ketat. Kementerian Pemuda dan Olahraga juga diharapkan memberikan dukungan logistik dan regulasi tambahan untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
Insiden ini menyoroti perlunya budaya menghormati keputusan resmi di lapangan, serta pentingnya perlindungan terhadap pejabat pertandingan dan pers. Jika tidak ditangani dengan tegas, kejadian serupa dapat mengikis kepercayaan publik terhadap integritas kompetisi sepakbola nasional.
Dengan proses disiplin yang sedang berjalan, semua mata kini tertuju pada Komite Disiplin PSSI. Keputusan mereka akan menjadi preseden penting bagi penegakan disiplin di Liga Super Indonesia ke depan.












