PSPK – 11 Maret 2026 | All England Open 2026 yang digelar di Utilita Arena, Birmingham menjadi saksi penampilan mengejutkan pasangan ganda putra muda Indonesia, Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin. Meski debut di turnamen BWF Super 1000, keduanya berhasil menembus semifinal, mengalahkan unggulan kelima dan ketiga sebelum akhirnya bertemu dengan ganda nomor satu dunia serta juara bertahan, Kim Won Ho dan Seo Seung Jae. Kekalahan 0-2 di babak semifinal menjadi pelajaran berharga, terutama dalam hal mental dan strategi permainan.
Ritual Persiapan yang Membentuk Mental Juara
Menurut PBSI, pasangan Raymond/Joaquin mengadopsi ritual khusus menjelang perempat final. Fokus pada pola makan bergizi dan tidur cukup dijadikan prioritas utama. Eng Hian, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, menyebut, “Mereka menekankan kualitas istirahat dan nutrisi sebagai fondasi mental yang kuat. Tanpa fondasi itu, performa di level tertinggi sulit terjaga.”
Ritual tersebut terbukti memberi dampak positif. Dalam pertandingan perempat final melawan pasangan unggulan kelima Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Raymond/Joaquin menunjukkan kestabilan ritme dan kecepatan serangan yang konsisten, mengamankan kemenangan dengan skor 21-18, 21-15.
Semifinal yang Menjadi Ujian Mental
Pertandingan melawan Kim/Seo menjadi uji coba sejati. Ganda Korea Selatan masuk dengan catatan tak terkalahkan di turnamen, memanfaatkan taktik servis cepat dan pertahanan yang rapat. Pada set pertama, Raymond/Joaquin sempat memimpin 10-7, namun tekanan mental mulai terasa ketika pasangan Korea mengubah tempo permainan. Kesalahan tidak pakai sengaja di net dan kurangnya konsistensi dalam smash membuat Raymond/Joaquin kehilangan momentum, berujung pada kekalahan 17-21.
Set kedua, Kim/Seo kembali menampilkan serangan balik yang tajam. Raymond/Joaquin mencoba meningkatkan agresivitas, namun kelelahan mental membuat mereka sering melakukan double fault. Akhirnya, skor 13-21 menutup kemenangan pasangan Korea. Meskipun kalah, Eng Hian menilai, “Mereka tidak runtuh, melainkan tetap berusaha melawan hingga titik akhir. Itu menandakan mental yang belum lemah, namun masih perlu diasah untuk menghadapi pressure di level tertinggi.”
Apresiasi PBSI dan Evaluasi Strategi
PBSI secara resmi mengapresiasi progres pemain muda Indonesia di All England 2026. Dalam rilis resmi, Eng Hian menegaskan dua sisi hasil Indonesia: positif pada perkembangan pemain muda, namun negatif pada tidak tercapainya satu gelar target. Ia menambahkan, “Regenerasi berjalan, dan Raymond/Joaquin adalah contoh nyata bahwa generasi baru sudah mampu bersaing di level elite.”
Selain Raymond/Joaquin, pemain muda lain seperti Putri Kusuma Wardani (tunggal putri) dan ganda putri juga menunjukkan potensi meskipun terhenti di perempat final. Secara keseluruhan, PBSI mencatat bahwa proses pembinaan mental masih menjadi fokus utama, terutama dalam mengelola tekanan pada fase krusial seperti semifinal.
Masa Depan Raymond/Joaquin: Jalan Menuju Konsistensi
Pasangan yang menjadi juara Australia Open 2025 ini kini menatap masa depan dengan target meningkatkan konsistensi mental. Menurut pelatih mereka, latihan visualisasi, simulasi situasi high‑pressure, dan kerja sama dengan psikolog olahraga akan menjadi bagian integral dari program persiapan menjelang kompetisi BWF berikutnya.
Analisis statistik menunjukkan bahwa pasangan muda ini memiliki persentase kemenangan 65% pada rally yang dimulai dengan serve pertama, namun hanya 38% pada rally yang dimulai setelah kehilangan poin penting. Ini menjadi indikator bahwa kemampuan mengembalikan fokus setelah kesalahan masih perlu ditingkatkan.
Dengan dukungan PBSI, sponsor, serta pengalaman berharga di All England, Raymond/Joaquin diyakini dapat kembali melaju lebih jauh pada turnamen berikutnya, bahkan berpotensi menantang dominasi Kim/Seo di masa depan.
Secara keseluruhan, meskipun All England 2026 tidak menghasilkan gelar bagi Indonesia, pencapaian semifinal oleh Raymond/Joaquin menandai langkah signifikan dalam proses regenerasi tim nasional. Kegagalan di semifinal menjadi bahan evaluasi bukan hanya pada teknik, melainkan pada ketahanan mental yang akan menjadi kunci kemenangan di panggung dunia.












