PSPK – 07 Maret 2026 | Lionel Messi kembali menjadi sorotan dunia tak hanya karena kehebatan di atas lapangan, namun juga karena dinamika finansial dan politik yang mengelilingi kariernya di Amerika Serikat. Sejak resmi bergabung dengan Inter Miami pada akhir 2023, Messi menorehkan jejak yang melampaui statistik gol, meliputi kontrak bernilai triliunan rupiah, peningkatan valuasi klub, serta pertemuan yang memicu perdebatan publik di Gedung Putih bersama mantan Presiden Donald Trump.
Kontrak Mengguncang Pasar MLS
Menurut pemilik Inter Miami, Jorge Mas, klub harus mengeluarkan biaya antara 60 hingga 70 juta euro per tahun untuk mengamankan jasa Messi. Angka tersebut mencakup gaji pokok, hak kepemilikan saham, serta bonus komersial. Jika dikonversi ke rupiah, nilai tersebut berada di kisaran Rp1,1‑1,3 triliun per tahun. Messi, yang berusia 38 tahun, menandatangani kontrak hingga usia 40 tahun, menjadikannya pemain dengan bayaran tertinggi kedua di dunia setelah Cristiano Ronaldo yang kini berlabuh di Al Nassr dengan kontrak 300 juta euro per tahun.
Inter Miami menegaskan bahwa pendapatan klub kini sangat bergantung pada sponsor dan kesepakatan komersial, yang menyumbang sekitar 55% total pendapatan. Keberadaan bintang-bintang seperti Messi, Luis Suárez, dan Rodrigo De Paul meningkatkan daya tarik hak siar televisi, meski persentase hak siar hanya dua persen. Jorge Mas menegaskan, “Alasan saya membutuhkan sponsor kelas dunia—adalah karena pemain itu mahal.”
Dampak Finansial pada Klub
Keputusan besar ini terbukti menguntungkan. Menurut data Sportico, valuasi Inter Miami melonjak 22% pada tahun 2025, mencapai 1,25 miliar euro (sekitar Rp24,6 triliun), menjadikannya klub paling berharga di liga Amerika Utara. Keberhasilan di lapangan turut menyokong kenaikan nilai tersebut; Inter Miami berhasil mengangkat trofi MLS pertama pada musim 2025, berkat kontribusi Messi yang menjadi pemain terbaik pada final MLS Cup 2025 dengan dua assist dalam kemenangan 3‑1 atas Vancouver.
Kontroversi di Gedung Putih
Pertemuan Messi dengan Donald Trump pada 5‑6 Maret 2026 di Gedung Putih menambah dimensi politik pada kariernya. Trump, dalam pidatonya, menyebut nama Cristiano Ronaldo saat berbicara kepada Messi, memicu perdebatan di kalangan penggemar. “Saya tidak tahu, mungkin Anda lebih baik. Siapa yang lebih hebat?” ujar Trump sambil menoleh ke skuad Inter Miami, kemudian menambahkan bahwa putranya, Barron, merupakan penggemar besar Messi serta Ronaldo.
Momen itu memicu reaksi beragam. Sebagian netizen menilai kunjungan tersebut sebagai penghormatan bagi tim juara MLS, sementara yang lain mengkritik kehadiran Messi di acara politik, mengingat sejarah kontroversial Trump. Kritik tajam muncul dalam judul “Lionel Messi Dikecam Seusai Bertemu Donald Trump, Ini Alasannya”, meski isi lengkap artikel tidak dapat diakses karena perlindungan Cloudflare.
Reaksi Publik dan Media
- Fans terbagi: sebagian mengapresiasi eksposur internasional bagi MLS, lainnya menilai pertemuan ini sebagai “political stunt”.
- Media lokal menyoroti besarnya investasi Inter Miami, menekankan bahwa Messi “memang pantas mendapatkan setiap sen yang dibayarkan”.
- Analisis ekonomi menilai bahwa biaya tinggi dapat terbayar lewat peningkatan penjualan merchandise, tiket, dan hak siar.
Kesimpulan
Messi kini tidak hanya menjadi ikon sepak bola, namun juga simbol ekonomi sport dan interaksi antara dunia hiburan dan politik. Kontrak triliunan rupiah dengan Inter Miami menunjukkan betapa nilai komersial pemain dapat mengubah lanskap keuangan liga, sementara kunjungan ke Gedung Putih menambah dimensi kontroversial yang melibatkan publik dan media. Keberhasilan Inter Miami di MLS, didorong oleh performa Messi, memperkuat argumen bahwa investasi besar dapat menghasilkan hasil on‑field yang signifikan, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang peran atlet dalam arena politik.












