PSPK – 07 Mei 2026 | Timnas Indonesia telah menunjukkan perjuangan yang luar biasa dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Namun, perjalanan mereka harus terhenti di Ronde Keempat setelah mengalami dua kekalahan beruntun pada bulan Oktober 2025. Kekalahan tersebut bukan hanya disebabkan oleh kualitas permainan, tetapi juga oleh sistem kompetisi yang dinilai tidak adil.
Pelatih Timnas Irak, Graham Arnold, secara terbuka mengkritik sistem kompetisi yang digunakan dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026. Ia menyatakan bahwa sistem penunjukan tuan rumah yang digunakan dalam putaran keempat sangat merugikan Timnas Indonesia. Arnold mengungkapkan bahwa pada awal kampanye kualifikasi, para peserta diberitahu bahwa ronde keempat akan digelar di tempat yang netral. Namun, kemudian regulasi diubah sehingga negara peserta dengan peringkat FIFA tertinggi berhak menjadi tuan rumah.
Penunjukan Arab Saudi sebagai tuan rumah Grup B dinilai sangat merugikan Timnas Indonesia. Arab Saudi mendapatkan keuntungan masif dari dukungan moral suporter dan penguasaan lapangan. Sementara itu, Timnas Indonesia dihadapkan pada jadwal yang sangat padat dan mencekik, dengan hanya memiliki tiga hari untuk pemulihan setelah menghadapi Arab Saudi sebelum melawan Irak.
Ketimpangan jadwal dan waktu pemulihan tersebut sangat berdampak pada hasil akhir Skuad Garuda. Timnas Indonesia harus menelan dua kekalahan tipis di putaran keempat, yaitu melawan Arab Saudi dan Irak. Hasil tersebut memastikan perjalanan Skuad Garuda menuju Piala Dunia 2026 berakhir.
Keberhasilan Timnas Indonesia menembus Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 adalah sebuah pencapaian luar biasa dalam sejarah sepak bola tanah air. Namun, perjuangan keras para pemain seakan dihadapkan pada “tembok tak terlihat” berupa kebijakan kompetisi yang timpang. Kesaksian pihak netral seperti Graham Arnold membuktikan bahwa kegagalan Indonesia di fase krusial ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas di atas lapangan, melainkan juga sistem regulasi penunjukan tuan rumah dan pembagian jadwal kompetisi yang tidak mencerminkan semangat keadilan.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa sistem kompetisi yang digunakan dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia perlu dievaluasi kembali untuk memastikan keadilan dan kesetaraan bagi semua tim peserta. Dengan demikian, perjuangan para pemain dapat dinilai secara adil dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar lapangan.












