PSPK – 19 Maret 2026 | Generasi anak‑anak kita tumbuh dalam era yang belum pernah dialami orang tua mereka sebelumnya: dunia yang serba cepat, selalu terhubung, dan serba instan. Di ujung jari mereka terbuka akses tak terbatas ke informasi, hiburan, bahkan identitas pribadi.
Kami terkagum melihat kemampuan mereka menari di layar, menyerap hal‑hal baru dengan cepat, serta menjelajah ruang digital yang sering melampaui kemampuan orang dewasa. Namun di balik rasa kagum itu muncul pertanyaan penting: apakah anak‑anak kita semakin maju atau justru semakin jauh dari jati dirinya?
Mereka mengenal dunia luar dengan luas, namun kadang gagap bila ditanya tentang asal‑usulnya. Mereka fasih mengikuti tren global, tetapi asing pada nilai‑nilai yang membentuk identitas mereka. Di sinilah dilema muncul: apakah ini kesalahan anak atau kesalahan kita sebagai orang tua?
Anak tidak memilih jalan hidupnya sejak lahir; mereka menapaki jejak yang kita buka. Bila layar lebih sering hadir daripada percakapan, bila dunia digital menguasai pengalaman nyata, maka itulah yang mereka pelajari tentang hidup. Masalahnya bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada keseimbangan nilai yang ditanamkan.
Budaya kita, khususnya tradisi Batak, menyediakan fondasi nilai yang kuat. Dalam kehidupan Batak, nilai tidak sekadar diajarkan, melainkan dihidupi. Leluhur merumuskan falsafah sederhana namun bermakna:
- Parhatian sora monggal – memberi perhatian yang adil tanpa pilih kasih, sehingga anak merasa dihargai bukan karena prestasi melainkan keberadaannya.
- Parninggala sibola tali – menekankan pentingnya menjaga hubungan, menghindari putusnya ikatan karena kesalahpahaman kecil.
- Mangangkat rap tu ginjang – mengajak semangat maju bersama, saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
- Manimbung rap tu toru – mengajarkan solidaritas, menolong yang terjatuh, nilai yang semakin langka di zaman modern.
- Sada lulu anak, sada lulu boru – menegaskan kesetaraan gender dan kekerabatan, memberi ruang yang sama bagi setiap individu.
Jika nilai‑nilai ini benar‑benar dijalankan, anak tidak hanya menjadi cerdas secara teknis, tetapi juga berakar kuat dan berkarakter. Mereka akan mampu bersaing, bertahan, serta berinovasi secara kreatif.
Tantangan terbesar adalah bahwa nilai tidak dapat diwariskan lewat kata‑kata semata atau diunduh seperti aplikasi. Nilai harus dialami, dirasakan, dan dihidupi dalam keseharian. Ketika anak diajak pulang ke kampung, ketika mereka duduk makan bersama keluarga besar, ketika mereka mendengar cerita leluhur, barulah mereka menemukan siapa diri mereka yang sesungguhnya.
Jika pengalaman itu hilang, anak berisiko menjadi mahir secara teknis namun rapuh dalam identitas dan karakter. Zaman kini cenderung menyederhanakan kesuksesan menjadi jabatan, kekayaan, gelar, atau popularitas. Ukuran‑ukuran itu tidak salah, namun menjadi problematis bila satu‑satunya tolok ukur.
Sejarah menunjukkan bahwa bangunan yang berdiri di atas materi semata mudah runtuh ketika fondasinya goyah. Sebaliknya, bangunan yang didirikan di atas nilai akan bertahan meski zaman berubah. Oleh karena itu, kita harus jujur pada diri sendiri: mungkin bukan anak yang kehilangan arah, melainkan kita yang terlalu sibuk menyiapkan masa depan mereka sehingga lupa memperkenalkan asalnya.
Anak yang mengenal asalnya memiliki pijakan kuat. Ia tidak mudah terombang‑ambing arus. Ia dapat menjadi modern tanpa tercerabut, tinggi tanpa kehilangan akar. Pertanyaan “salah anak atau kita?” bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menyadarkan. Perubahan dimulai dari orang tua yang menyisihkan waktu, mengadakan percakapan, dan memberikan teladan. Warisan yang kita tinggalkan bukan hanya pendidikan atau harta, melainkan jati diri yang tak pernah kehilangan nilainya, dalam keadaan apa pun dan di zaman apa pun.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang merayakannya. Semoga kita tidak hanya membesarkan anak yang cerdas, tetapi juga anak yang mengenal dirinya dan berpegang teguh pada nilai‑nilai luhur.












