PSPK – 19 Maret 2026 | Mantan pemain Tim Nasional Prancis, Samir Nasri, mengkritik keras Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) usai keputusan mendadak mencabut gelar juara Piala Afrika 2025 dari Senegal dan menyerahkannya kepada Maroko. Nasri menyampaikan keheranannya pada sebuah program olahraga di Canal+.
Nasri menambahkan, “Jika keputusan diambil pada malam yang sama atau keesokan harinya, mungkin masih dapat dimengerti. Namun kini, penundaan selama berminggu‑minggu menimbulkan kebingungan dan kekecewaan.”
Berita ini memicu langkah hukum dari federasi sepak bola Senegal yang secara resmi mengajukan banding ke Mahkamah Arbitrase Olahraga (CAS) untuk menuntut pengembalian gelar. Pihak Senegal menegaskan bahwa pencabutan gelar pasca‑selebrasi memperkuat persepsi publik bahwa tata kelola sepak bola Afrika tidak konsisten.
- Keputusan CAF diumumkan beberapa pekan setelah final.
- Senegal sudah merayakan kemenangan dan kembali ke negara dengan trofi.
- Nasri menilai keputusan tersebut merusak kredibilitas CAF.
- Federasi Senegal mengajukan banding ke CAS.
- Kasus ini menambah tekanan pada reformasi tata kelola kompetisi di Afrika.
Kontroversi ini menyoroti tantangan administratif yang dihadapi kompetisi regional dan menimbulkan pertanyaan tentang transparansi serta keadilan dalam proses keputusan penting.












