PSPK – 13 Mei 2026 | Pengadaan helikopter untuk keperluan Gubernur Sulawesi Selatan kembali menjadi sorotan publik setelah terungkap anggaran miliaran rupiah dialokasikan untuk penyewaan pesawat terbang pada tahun 2025 dan 2026. Kasus ini menambah daftar kontroversi yang melibatkan keluarga Sulaiman, termasuk pembelian mobil Lexus senilai lebih dari Rp2 triliun yang terjadi pada masa efisiensi anggaran nasional.
Latar Belakang Keluarga Sulaiman dan Kebijakan Efisiensi
Amran Sulaiman, adik dari Menteri Pertanian (Mentan) dan sekaligus menantu Gubernur Sulawesi Selatan, Sudirman Sulaiman, telah lama berada dalam lingkaran politik regional. Pada Agustus 2023, media menyoroti foto mereka bersama Prabowo Subianto di Jalan Santai Antimager, Makassar, yang menambah sorotan terhadap jaringan politik di provinsi tersebut.
Seiring dengan upaya Presiden Prabowo Subianto memperketat kebijakan efisiensi anggaran negara, sejumlah daerah diminta menurunkan belanja tidak esensial. Namun, data yang diungkapkan melalui Sistem Informasi Rencana Umum Anggaran (SiRUP) menunjukkan bahwa Provinsi Sulawesi Selatan tetap menganggarkan dana signifikan untuk penyewaan helikopter, meski terdapat helikopter pribadi yang dimiliki oleh Amran Sulaiman melalui AAS Foundation.
Rincian Anggaran Penyewaan Helikopter
| Tahun | Total Anggaran (Rp) | Komponen Biaya | Catatan |
|---|---|---|---|
| 2025 | 3.206.680.000 | Asuransi jiwa, layanan penanganan pesawat, penumpang, bagasi, kargo darat, ground handling, kru, bahan bakar | Pengadaan pertama, nilai tertinggi |
| 2026 | 2.035.712.250 | Pilot 1 orang, 4 penumpang, BBM, engineering, HLO, ground handling | Penurunan nilai hampir 1 miliar |
Kronologi Pengadaan dan Respons Pemerintah Daerah
- 2025: Biro Umum Sulsel mengajukan rencana anggaran penyewaan helikopter sebesar Rp3,2 miliar, mencakup layanan lengkap mulai dari asuransi hingga ground handling.
- 2026: Anggaran kembali diajukan dengan nilai Rp2,0 miliar, menampilkan penurunan signifikan namun tetap mencakup kebutuhan operasional.
- Juli 2024: Media melaporkan pembelian mobil Lexus senilai lebih dari Rp2 triliun oleh Amran Sulaiman, memicu pertanyaan tentang konsistensi dengan kebijakan efisiensi.
- Agustus 2024: Kepala Diskominfo-SP, Muh Salim Basmin, memberikan pernyataan kepada ERA.id bahwa belum ada APBD yang dipakai untuk sewa helikopter; semua masih dalam tahap perencanaan.
- September 2024: Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegur kepala daerah secara nasional tentang risiko korupsi dan pemborosan dalam konteks efisiensi anggaran.
Analisis Teknis dan Pertanyaan Publik
Beberapa pertanyaan kritis muncul terkait proses pengadaan ini:
- Siapa sebenarnya rekanan yang dipilih untuk menyediakan helikopter? Identitas penyedia tidak diungkapkan oleh pihak Biro Umum.
- Spesifikasi teknis helikopter apa yang digunakan? Tidak ada data publik mengenai tipe, kapasitas, atau tahun pembuatan pesawat.
- Mengapa harga turun hampir satu miliar rupiah pada tahun berikutnya? Penurunan tersebut tidak dijelaskan secara transparan, menimbulkan dugaan adanya negosiasi atau perubahan spesifikasi.
- Apakah penggunaan helikopter memang diperlukan untuk keadaan darurat, atau lebih kepada kepentingan pribadi pejabat? AAS Foundation memiliki helikopter pribadi yang dapat diakses, sehingga keperluan penyewaan menjadi dipertanyakan.
Implikasi Bagi Masyarakat dan Pemerintahan
Pengadaan helikopter dengan nilai miliaran rupiah dapat menimbulkan beberapa dampak, antara lain:
- Kepercayaan Publik: Masyarakat menilai adanya ketidaksesuaian antara seruan efisiensi dan realitas belanja tinggi, yang dapat menurunkan kepercayaan terhadap pemerintah daerah.
- Penggunaan Anggaran APBD: Alokasi dana untuk helikopter mengurangi ruang fiskal untuk program prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
- Risiko Hukum: Jika terbukti ada penyalahgunaan dana atau pelanggaran prosedur tender, pejabat terkait dapat menghadapi audit KPK atau sanksi administratif.
- Pengaruh Politik: Kasus ini dapat dimanfaatkan lawan politik sebagai alat kritik, memperkuat narasi bahwa elite politik mengutamakan kepentingan pribadi.
Perbandingan dengan Kasus Serupa di Daerah Lain
Beberapa provinsi lain juga pernah dikritik karena pengadaan transportasi elit di tengah efisiensi, antara lain:
- Provinsi Jawa Barat: Pengadaan helikopter untuk gubernur dengan nilai Rp1,8 miliar pada 2023, kemudian dibatalkan setelah sorotan publik.
- Provinsi Kalimantan Utara: Penyewaan pesawat pribadi senilai Rp900 juta untuk kunjungan kerja, dipertanyakan karena tersedia transportasi darat yang memadai.
Perbandingan ini menegaskan pola umum dimana pejabat daerah mengalokasikan dana tinggi untuk transportasi pribadi, meski terdapat alternatif yang lebih ekonomis.
Reaksi Pemerintah Pusat dan Upaya Pengawasan
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian secara terbuka menegaskan pentingnya transparansi dalam penggunaan APBD, khususnya pada periode efisiensi. Ia meminta setiap pemerintah daerah untuk menyampaikan laporan rinci mengenai belanja transportasi elit, serta menyiapkan mekanisme audit independen.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan melalui Direktorat Pengendalian Pengeluaran (DP2) memperketat prosedur tender, mewajibkan analisis cost‑benefit yang terperinci sebelum persetujuan anggaran.
Apakah Pengadaan Helikopter Masih Diperlukan?
Argumentasi resmi mengemukakan bahwa helikopter dibutuhkan untuk situasi darurat, seperti bencana alam yang kerap melanda Sulawesi Selatan. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) biasanya memiliki armada khusus atau dapat mengakses militer, sehingga peran helikopter yang dikelola oleh Biro Umum menjadi kurang jelas.
Jika tujuan utama memang mendukung respons bencana, alur pengadaan seharusnya melibatkan BPBD, bukan biro administratif yang mengurusi kebutuhan pribadi pejabat. Penempatan tanggung jawab yang tidak tepat dapat menimbulkan inefisiensi operasional dan meningkatkan biaya.
Langkah Selanjutnya dan Harapan Publik
Berbagai organisasi masyarakat sipil, termasuk LSM anti‑korupsi, menuntut transparansi penuh atas dokumen tender, kontrak, dan laporan penggunaan dana. Mereka mengajak Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk:
- Mengungkap identitas penyedia helikopter dan spesifikasi teknis secara terbuka.
- Menyampaikan justifikasi kebutuhan yang jelas, lengkap dengan analisis alternatif transportasi.
- Meninjau kembali anggaran yang belum terealisasi, serta mengembalikan dana yang tidak terpakai ke kas daerah.
- Mengoptimalkan armada BPBD untuk keperluan darurat, mengurangi ketergantungan pada penyewaan helikopter elit.
Jika langkah‑langkah tersebut diimplementasikan, diharapkan dapat memperbaiki citra pemerintah daerah, menegakkan prinsip efisiensi, dan mengembalikan kepercayaan publik.
Pengadaan helikopter di tengah seruan efisiensi menyoroti ketegangan antara kebutuhan operasional dan persepsi publik tentang penggunaan dana publik. Pada akhirnya, transparansi, akuntabilitas, dan penegakan regulasi menjadi kunci untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan benar‑benar melayani kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pribadi atau politik.












