PSPK – 13 April 2026 | Solo kembali menjadi panggung utama bagi pecinta budaya Jawa pada Kamis, 26 Maret 2026. Dua agenda besar menanti warga dan wisatawan: konser keroncong tradisional “Keprabon” serta pertunjukan wayang orang di Sriwedari. Kedua acara ini tidak hanya menonjolkan warisan musik dan teater, tetapi juga memperkuat posisi Solo sebagai pusat kebudayaan yang terus hidup.
Keroncong Keprabon: Melodi Nostalgia di Jantung Kota
Grup musik keroncong Keprabon akan menggelar penampilan di Balai Kartini, Solo, mulai pukul 19.00 WIB. Repertori mereka mencakup lagu-lagu klasik keroncong seperti “Bengawan Solo” dan “Gelang Sepatu,” dipadu dengan aransemen modern yang menambah energi panggung. Penampilan diperkirakan akan berlangsung selama dua set, masing‑masing kira‑kira satu jam, dengan jeda singkat untuk menyajikan hidangan ringan khas Jawa kepada penonton.
Kerangka musik keroncong, yang menggabungkan gitar, ukulele, biola, serta instrumen tradisional seperti suling, menawarkan suasana santai namun sarat makna. Bagi generasi muda, Keprabon menjadi jembatan antara warisan budaya dan selera musik masa kini, sementara para penikmat lama dapat menikmati kembali melodi yang telah mengiringi hidup mereka selama puluhan tahun.
Wayang Orang Sriwedari: Cerita Epik yang Hidup di Panggung
Pertunjukan wayang orang di Gedung Sriwedari, yang dimulai pukul 20.30 WIB, menampilkan lakon Mahabharata “Srikandi”. Cerita ini menyoroti peran perempuan pahlawan dalam kisah epik, menambah relevansi tema gender dalam konteks modern. Artis wayang orang Sriwedari, yang terdiri dari aktor profesional dan mahasiswa seni, menampilkan gerakan yang terlatih serta dialog yang diadaptasi bahasa Jawa kontemporer.
Wayang orang, berbeda dengan wayang kulit, menuntut keahlian akting yang tinggi karena para pemain muncul secara langsung di depan penonton. Kostum yang dibuat dengan kain tradisional, perhiasan emas buatan, serta make‑up yang detail menambah keaslian visual. Penonton dapat merasakan intensitas drama, musik gamelan yang mengiringi, serta resonansi nilai moral yang tetap relevan.
Perjalanan Mudah ke Lokasi Acara
Transportasi publik di Solo memberikan kemudahan akses ke kedua lokasi. KRL Solo‑Jogja beroperasi dengan frekuensi tinggi pada hari kerja. Penumpang dapat naik kereta dari Stasiun Palur atau Stasiun Solo Balapan menuju Stasiun Jebres, yang berada dalam jarak berjalan kaki 5‑10 menit ke Balai Kartini. Jadwal keberangkatan pada hari Kamis, 26 Maret, dimulai pukul 05.00 WIB dan berakhir sekitar 22.00 WIB, memastikan penumpang dapat tiba tepat waktu untuk acara malam.
Selain KRL, layanan angkutan kota (angkot) dan taksi online tersedia sepanjang hari. Bagi yang menginap di pusat kota, banyak hotel menyediakan layanan antar‑jemput khusus pada malam pertunjukan, mengurangi kebutuhan mencari parkir.
Kalender Jawa dan Nuansa Spiritual
Pada tanggal 26 Maret 2026, kalender Jawa menandai hari Selasa Pon, yang secara tradisional dianggap baik untuk kegiatan sosial dan budaya. Weton Selasa Pon dikenal memiliki sifat cerdas, komunikatif, dan energik, cocok dengan semangat acara musik serta teater yang akan digelar. Masyarakat Jawa yang masih mengamalkan perhitungan weton dapat memanfaatkan hari ini untuk merencanakan kunjungan ke acara budaya, karena dipercaya membawa keberuntungan dan kebahagiaan.
Harapan dan Dampak Sosial
Acara keroncong dan wayang orang ini diharapkan meningkatkan partisipasi publik dalam melestarikan seni tradisional. Penyelenggara menargetkan kehadiran lebih dari 5.000 penonton gabungan, dengan sebagian besar berasal dari kalangan muda. Selain hiburan, kedua acara berfungsi sebagai platform edukasi, memperkenalkan nilai‑nilai kebudayaan kepada generasi berikutnya.
Penjualan tiket sudah dibuka secara daring melalui portal resmi Pemerintah Kota Solo dan situs resmi Sriwedari. Harga tiket ditetapkan terjangkau, mulai dari Rp 50.000 untuk keroncong dan Rp 75.000 untuk wayang orang, dengan diskon khusus bagi pelajar dan mahasiswa. Pendapatan sebagian akan dialokasikan untuk program pelatihan seniman muda, memperkuat ekosistem seni di wilayah Jawa Tengah.
Dengan kombinasi musik melankolis, drama epik, dan kemudahan akses transportasi, Kamis, 26 Maret 2026, menjadi hari yang penuh warna bagi Solo. Baik warga setempat maupun wisatawan dapat menikmati pengalaman budaya yang otentik, sekaligus berkontribusi pada pelestarian warisan seni Jawa yang tak ternilai.












