Project Seru Penuh Kejutan
Nature  

Dari Danau Toba untuk Dunia: Komitmen Nyata Menyelamatkan Bumi sebagai Rumah Bersama

April 13, 2026 • 0 Views
Dari Danau Toba untuk Dunia: Komitmen Nyata Menyelamatkan Bumi sebagai Rumah Bersama
Dari Danau Toba untuk Dunia: Komitmen Nyata Menyelamatkan Bumi sebagai Rumah Bersama

PSPK – 13 April 2026 | Medan – Pada hari Minggu, 12 April 2026, Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark (BP TCUGGp) menandatangani Nota Kesepahaman dengan Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dan Boruna (PPTSB) di kantor pusat PPTSB, Wisma Tosim, Medan, Sumatera Utara. Penandatanganan ini menegaskan kembali tekad bersama untuk melindungi bumi sebagai rumah bersama melalui pengembangan berkelanjutan berbasis geopark.

MoU tersebut ditandatangani oleh General Manager BP TCUGGp, Azizul Kholis, dan Ketua Umum PPTSB, Edison Sinaga. Kesepakatan mencakup kerja sama strategis selama lima tahun ke depan dalam bidang pendidikan, inovasi, pariwisata, ekonomi lokal, pembinaan generasi muda, serta pelestarian budaya dan lingkungan.

Berikut poin‑poin utama kerja sama yang direncanakan:

  • Pendidikan: penyusunan modul pembelajaran geopark untuk sekolah dan universitas.
  • Inovasi: pengembangan teknologi ramah lingkungan untuk pengelolaan sumber daya alam.
  • Pariwisata: promosi destinasi berbasis ekowisata yang melibatkan komunitas setempat.
  • Ekonomi Lokal: pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program pelatihan dan pemasaran produk tradisional.
  • Generasi Muda: program magang, kompetisi ide hijau, dan pembuatan museum tematik geopark.
  • Budaya dan Lingkungan: revitalisasi situs budaya, reboisasi, dan monitoring kualitas air Danau Toba.

PPTSB menyoroti rekam jejak organisasi sejak berdiri pada tahun 1940, termasuk program penghijauan berbasis marga, pengelolaan kebun bibit, serta pengawasan kawasan hijau di sekitar Danau Toba. Sementara itu, BP TCUGGp menampilkan pencapaian internasional berupa “Green Card” UNESCO untuk Toba Caldera UNESCO Global Geopark, rencana pengembangan geosite baru, pelaksanaan Geofest 2026, dan penguatan program reboisasi.

Di balik optimisme tersebut, suara kritis muncul dari Wilmar Eliaser Simandjorang, anggota Dewan Pakar PPTSB. Ia menekankan bahwa tantangan utama kini bukan kurangnya konsep, melainkan keberanian dalam mengeksekusi. Menurutnya, masih ada jarak yang signifikan antara rencana dan pelaksanaan, serta antara dokumen dan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kerja sama ini akan diuji bukan oleh dokumennya, tetapi oleh jejaknya di lapangan: apakah lingkungan semakin terjaga, masyarakat merasakan perubahan, dan generasi muda benar‑benar terlibat,” ujar Wilmar.

Wilmar juga menyoroti peran penting BP TCUGGp dalam menjaga konsistensi implementasi, sementara PPTSB dianggap memiliki kekuatan sosial strategis lewat jaringan komunitas dan kedekatan kultural yang dapat menjadi motor perubahan di tingkat akar rumput.

Diskusi lanjutan melibatkan pimpinan PPTSB seperti Eduard Sinaga, Aldon Sinaga, dan Yas Sinaga, serta Ketua Yayasan PPTSB Hombar Sinaga dan anggota Dewan Pakar Osbet Sinaga. Dari pihak BP TCUGGp hadir Petrus Parlindungan Purba, Tikwan Raya Siregar, dan Ovi Vensus Samosir. Semua pihak menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam jaringan geopark global, mengembangkan ruang edukasi seperti museum tematik, serta memperkuat program yang sejalan dengan rekomendasi UNESCO.

Tujuannya jelas: menjadikan geopark bukan sekadar simbol, melainkan ruang hidup yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Acara ditutup dengan ramah tamah, namun pesan yang ditekankan tetap tegas—kolaborasi tidak boleh berakhir pada dokumen. Dari tepian Danau Toba, dunia diingatkan kembali bahwa menjaga bumi bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata lintas generasi, mengubah rencana menjadi dampak yang dirasakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *