PSPK – 11 April 2026 | Jakarta – Lagu legendaris “Cinta Mulia” ciptaan Koes Plus kembali mencuri perhatian publik setelah diaransemen ulang oleh Ajeng Febria dan Adinda Rahma dengan sentuhan dangdut yang lebih segar.
Lagu ini awalnya ditulis oleh Yok Koeswoyo dan pertama kali dirilis pada Januari 1975 melalui album Pop Melayu Volume 2. Sejak itu, “Cinta Mulia” menjadi salah satu balada romantis yang dikenang banyak generasi.
Versi terbaru mempertahankan nuansa romantis khas lagu asli, namun dibalut dengan irama dangdut modern yang lebih mudah diterima oleh pendengar masa kini. Ajeng Febria dan Adinda Rahma menambahkan vokal harmonis serta aransemen instrumen yang menonjolkan perkusi dan suling tradisional.
Pesan utama lagu menekankan bahwa cinta yang suci adalah cinta yang tidak tercemar oleh nafsu atau kepentingan duniawi. Kebahagiaan dalam hubungan dinilai lebih pada ketulusan hati dan kesediaan berbagi suka maupun duka, bukan pada harta benda.
Sepasang remaja jatuh cinta Di bawah asuhan dewi asmara Disinari cahya purnama Disaksikan bintang-bintang sejuta Saling janji kan setia Hidup rukun damai selamanya Membina rumah tangga Sampai nanti di hari tua Cinta itu suci dan mulia Jika tak ternoda nafsu yang hina Rasa cinta itu bahagia Kalo bukan hanya inginkan harta Suka duka bersama Seiring sejalan seirama Tahan uji dan derita Hidup pasti bagai di surga Sungguh indah cita-cita mereka Semoga bahagia selama-lamanya Sungguh indah cita-cita mereka Semoga bahagia selama-lamanya Cinta itu suci dan mulia Jika tak ternoda nafsu yang hina Rasa cinta itu bahagia Kalo bukan hanya inginkan harta Suka duka bersama Seiring sejalan seirama Tahan uji dan derita Hidup pasti bagai di surga Sungguh indah cita-cita mereka Semoga bahagia selama-lamanya Sungguh indah cita-cita mereka Semoga bahagia selama-lamanya Sungguh indah cita-cita mereka Semoga bahagia selama-lamanya Sungguh indah cita-cita mereka Semoga bahagia selama-lamanya
Dengan aransemen baru, “Cinta Mulia” berhasil menyentuh kembali para penggemar lama sekaligus menarik minat generasi muda. Penampilan Ajeng Febria dan Adinda Rahma menunjukkan bagaimana karya klasik dapat dihidupkan kembali tanpa kehilangan esensinya.












