Beranda PSPK Jilid XII: Setelah Membaca, Opo meneh rek?

Surabaya mendeklarasikan sebagai Kota Literasi pada tahun 2014. Banyak program yang dilakukan pemerintah Surabaya dalam menyukseskan Gerakan Literasi Surabaya (GLS), seperti Gerakan 15 Menit Membaca sebelum pembelajaran yang diikuti dengan penulisan ringkasan serta Tantangan Membaca yang menekankan pada target jumlah buku untuk dibaca. Lalu, setelah membaca, opo maneh rek? Apakah GLS yang dilakukan sudah meningkatkan kemampuan literasi siswa?

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, melalui rangkaian Ngobrol Publik Pesta Pendidikan 2018 Surabaya, bertempat di LPMP Jawa Timur, PSPK membuka ruang diskusi terkait literasi dengan pemangku kebijakan, orangtua, komunitas, guru, peneliti, praktisi pendidikan, aktivis literasi, dan mahasiswa melalui “Beranda PSPK Jilid XII: Setelah Membaca, Opo meneh rek?”.

Beranda PSPK Jilid XII: Setelah Membaca, Opo meneh rek?

Najelaa Shihab berperan sebagai moderator yang memandu jalannya diskusi. Hadir Sofie Dewayani (peneliti dan praktisi literasi), Kartono (pendiri TBM Kawan Kami), serta perwakilan Dinas Pendidikan Kota Surabaya Munayah (Kepala Seksi Kurikulum dan Pembinaan Dasar Dinas Pendidikan Surabaya) sebagai narasumber utama.

Diskusi dibuka dengan pemaknaan gerakan literasi oleh Sofie Dewayani. Menurut Sofie, gerakan literasi yang terjadi saat ini masih terlihat sebagai program, bukan gerakan. Hal ini karena adanya keharusan yang dibebankan serta kurangnya melibatkan sisi emosi dan keberminatan. Faktor afektif tersebutlah yang menghilangkan makna gerakan. Kemudian dalam pelaksanaannya pun masih seragam di seluruh Indonesia, tidak ada inovasi dan kebaruan, serta tidak menyesuaikan dengan konteks lokal. Misalnya, gerakan membaca 15 menit dilakukan seragam antara daerah dan pusat, sementara kondisi ketersediaan buku sangat berbeda, sehingga membuat anak-anak di daerah bosan karena buku sudah habis. Kesadaran untuk menerjemahkan dalam konteks kekinian pun disampaikan Sofie sebagai faktor penting dalam peningkatan literasi. Konteks abad 21 misalnya, apakah dalam meningkatkan literasi anak harus semuanya menyukai membaca dan menulis di buku teks? Bagaimana dengan anak-anak yang menyukai vlogging? Bagaimana membuat literasi membumi bagi anak-anak dengan berbagai kebutuhan?

Kemudian diskusi dilanjutkan dengan apa yang sudah dilakukan Dinas Pendidikan Surabaya dalam meningkatkan literasi siswa. Menurut Munayah, gerakan literasi ini telah dilakukan sejak 2014 saat siswa ditugaskan menuliskan apa yang dilakukan bersama keluarga selama libur, kemudian berlanjut di tahun 2015 dengan Gerakan Membaca 15 Menit dan membuat ringkasan serta Tantangan Membaca yang terus meningkat jumlah bukunya per tahun. Dinas Pendidikan juga membukukan tulisan-tulisan terbaik siswa yang dikirim pihak sekolah dan menjadi salah satu suvenir tamu pemerintah. Walaupun program yang dilakukan melampaui target, Munayah mengaku mengalami beberapa tantangan, seperti keterbatasan fasilitas perpustakaan yang ditanggulangi dengan pembuatan sudut baca di setiap kelas serta keterbatasan buku yang diatasi dengan mengalokasikan sebagian dana BOS serta sumbangan swadaya siswa.

Sementara itu, Kartono berbagi cerita mengenai bagaimana awalnya ia sampai mendirikan TBM Kawan Kami di kawasan Dolly. Kepedulian merupakan awal ia terjun ke dunia perpustakaan. Aktif mengikuti pelatihan-pelatihan, membuatnya sering membaca kembali modul-modul pelatihan. Aktivitas membaca (kembali) itu diakuinya banyak membuat perubahan dalam hidupnya dan akhirnya membangun TBM Kawan Kami. Dalam kegiatannya, ia sering bekerja sama dengan pihak perguruan tinggi serta mahasiswa di Surabaya. Hal penting yang ia lakukan dalam mengajarkan anak membaca adalah mereka tidak asal membaca, tetapi membaca yang bertujuan, seperti membaca resep kemudian mempraktikannya.

Banyak kegiatan yang telah diupayakan Surabaya dalam meningkatkan literasi, misalnya seperti yang disampaikan Prof Kasyani dari Pusat Studi Literasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), yakni membantu pengumpulan buku ke daerah-daerah penempatan guru SM3T serta adanya KKN Literasi UNESA sejak 2017.  Begitu pun dengan yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dengan menurunkan tenaga perpustakaan untuk membantu perpustakaan sekolah, seperti yang diakui Sucipto seorang guru di Surabaya, serta Musdiq Ali, Kepala Dinas Perpustakaan Surabaya yang turut hadir dalam diskusi ini. Namun, ditambahkan lagi oleh Musdiq, keterbatasan tenaga perpustakaan ini membuat mereka tidak bisa penuh waktu membantu sekolah, karena keterbatasan tersebut, harapan ke depan, tenaga perpustakaan bisa menciptakan tenaga perpustakaan dari sekolah sendiri yang handal.

Selain itu, Sucipto menyampaikan bahwa buku saku yang diberikan pemerintah kurang operasional. Hal tersebut ditanggapi Munayah (perwakilan Dinas Pendidikan Surabaya) dengan menyampaikan bahwa setiap tahun buku panduan tersebut selalu diperbarui dan rencananya akan memuat penguatan implementasi mulai dari perencanaan sampai implementasinya.

Seperti halnya diskusi-diskusi Beranda lainnya, Beranda kali ini pun mengundang banyak masukan dan rekomendasi perbaikan. Misalnya yang disampaikan Pri yang menyarankan agar pihak guru dan kepala sekolah pun ikut membaca saat Gerakan 15 Menit Membaca, karena gerakan literasi ini perlu contoh. Begitu pula Nurwin (Pelaksana Harian Gerakan Literasi Nasional dan Wakil Ketua Gerakan Literasi Sekolah) menyampaikan bahwa kita bisa ikut andil dalam gerakan literasi yang dimulai dari lingkungan sendiri dengan merekomendasikan dana desa untuk pendirian taman baca.

Sementara Sulistyanto Soejoso, praktisi pendidikan dan mantan Dewan Pendidikan Jawa Timur, memberikan masukan untuk meninjau ulang kebijakan 15 Menit Membaca yang diikuti kewajiban dalam penulisan ringkasan, menurutnya tugas membuat ringkasan setiap hari akan mendorong asumsi harus membaca satu buku dalam 15 menit, kemudian esok harinya siswa akan membaca buku baru tanpa menyelesaikan buku kemarin. Hal ini dikhawatirkan akan membentuk kebiasaan yang tidak baik, yakni tidak menyelesaikan apa yang dimulai. Ia pun menambahkan bahwa yang paling penting adalah menciptakan atmosfer yang membangun budaya membaca, seperti jam buka perpustakaan lebih lama dari jam sekolah, memperluas jaringan perpustakaan, membuka akses masyarakat terjadap perpustakaan sekolah, serta memberikan ruang untuk siswa terlibat dalam mengelola perpustakaan.

Terakhir, Sofie menambahkan agar gerakan literasi yang dilakukan tidak terpaku pada peringkat dan terjebak angka-angka statistika. Ia pun mencontohkan yang dilakukan Iran, yang memaknai literasi secara mendalam serta menumbuhkan identitas sebagai bangsa melalui syair.

Menutup diskusi, moderator memaparkan simpulan hasil diskusi, terlepas dari berbagai kendala yang disampaikan berbagai pihak, perlu dipikirkan indikator keberhasilan setelah membaca seperti apa dan bagaimana kualitas yang ingin dicapai, implementasi kebijakan, termasuk di dalamnya bagaimana kebijakan tersebut diinterpretasikan.

Hal lain yang sering ditemui PSPK dalam beragam diskusi melalui Beranda adalah pemahaman dalam memaknai urutan kebijakan, seringkali kita melihat suatu kebijakan hanya dalam suatu kurun waktu tertentu, bagaimana kebijakan tersebut di waktu sebelumnya dan di waktu yang akan datang seringkali tidak relevan. Beberapa usulan konkrit dalam diskusi seperti literasi multimodal, literasi digital, dan lain sebagainya memantik percakapan yang bisa menjadi bahan diskusi lanjutan Beranda PSPK.